6 Bias Psikologis yang Bisa Menghambatmu dalam Membangun Kekayaan

|

|

|

Kamu mungkin pernah mendengar bahwa tidak boleh membiarkan emosi mendorong keputusan keuanganmu. Namun itu mungkin lebih sulit daripada kedengarannya. Faktanya, mungkin ada sejumlah bias psikologis yang menghalangi kamu untuk membangun kekayaan.

Menurut perencana keuangan bersertifikat Michael Finke yang sekaligus seorang profesor manajemen kekayaan di The American College of Financial Services, hal itu karena bagian otak yang memungkinkanmu membayangkan masa depan tidak bergerak secepat bagian yang mengatur emosi.

“Bagian emosional dari otak kita efektif ketika melakukan hal-hal seperti menghindari harimau bertaring tajam, tetapi mungkin tidak seefektif ekonomi modern,” kata Finke, yang penelitiannya mencakup perilaku investor individu.

Hal tersebut tentunya bisa mengakibatkan penjualan investasi hanya untuk menenangkan bagian emosional otak, alih-alih berpikir ke depan. Berikut adalah enam bias psikologi yang harus diwaspadai dan bagaimana kamu bisa mengatasinya!

1. Keengganan untuk Rugi   

Sejauh ini bias emosional yang paling kuat yaitu penghindaran kerugian mengacu pada keinginan untuk menghindari risiko apa pun yang dapat mengakibatkan kerugian.

Ini bisa mengarahkan investor untuk menjual sesuatu setelah harganya jatuh dan membeli lebih banyak sesuatu yang telah naik.

“Itu bisa menjelaskan mengapa banyak investor berkinerja buruk di pasar,” kata Finke.

Sebaiknya buat keputusan investasi menggunakan bagian rasional dari otak kamu dan kemudian abaikan saja, sarannya. Siapkan sistem yang secara otomatis akan menyeimbangkan kembali portofolio milikmu sehingga kamu tidak membuat perubahan berdasarkan emosi.

“Ketika merencanakan masa depan, kita menggunakan bagian rasional dari otak. Itulah mengapa sangat penting untuk memikirkan apa tujuan keuangan kita,” terangnya.

2. Endowment Effect  

Kebanyakan orang cenderung menilai sesuatu lebih tinggi setelah mereka memilikinya. Misalnya, kamu mungkin mewarisi beberapa saham dari kerabat atau berinvestasi dalam aset yang nilainya naik.

“Begitu kita secara emosional berinvestasi dalam saham, itu bisa menjadi sulit untuk dijual,” jelas Finke.

Namun, jika itu mengambil sebagian besar portofolio milikmu, itu berarti lebih banyak risiko. Rata-rata, menjadi sangat terbebani dalam satu hal tidak akan memberi kamu pengembalian yang lebih tinggi daripada portofolio yang terdiversifikasi dengan baik.

Karena itu, sebaliknya pikirkan secara rasional tentang pilihanmu dan pastikan memiliki kombinasi aset yang tepat untuk kebutuhan kamu.

3. Kekeliruan yang Menyebabkan Uangmu Hangus

Ini terjadi ketika kamu terus menginvestasikan uang dalam proyek yang merugi karena investasi sebelumnya yang telah dilakukan, seperti menghabiskan $2.000 untuk memperbaiki mobil yang terus mogok. Kamu tidak ingin membeli mobil baru karena memikirkan berapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk kendaraan tersebut. .

“Kamu seharusnya tidak memikirkan keputusan yang buruk. Fokuslah hanya pada tindakan terbaik yang akan dilakukan ke depan, “saran Finke.

4. Bias Status Quo

Ketika kamu tidak melakukan apa pun karena Anda akan hasil negatif, meskipun keputusan itu mungkin sepadan dengan risikonya, itu dianggap sebagai bias status quo.

“Kamu terpaku pada hal yang akan menyebabkan emosi negatif dan itu memberimu pembenaran untuk tidak melakukan apa-apa,” kata Finke.

Misalnya, kamu mungkin memegang saham yang telah kehilangan nilainya karena tidak ingin mengalami kerugian.

Sebaliknya, pikirkan secara rasional tentang harga dan bagaimana perbandingannya dengan harga dan dividen yang diharapkan di masa depan. Ketika menjual aset dengan kerugian, itu akan menggantikan sebagian keuntungan yang kamu peroleh.

5. Efek Ikut-Ikutan

Hanya karena semua orang membeli saham tertentu, tidak berarti itu tepat untukmu. Namun, kebanyakan orang pasti akan merasa lebih aman mengikuti keramaian.

“Kamu mungkin pernah mendengar cerita tentang orang-orang yang telah menghasilkan uang dari investasi yang sangat berisiko dan merasa seperti ketinggalan perahu. “Ketakutan akan penyesalan itu mendorong banyak orang untuk mengambil keputusan investasi yang tidak bijaksana.” kata Finke.

6. Bias Konfirmasi

Kebanyakan orang sering mencari informasi yang menegaskan keyakinan mereka sebelumnya. Menurut Finke, tinjauan lain apa pun akan menciptakan respons emosional negatif dan kamu harus mengevaluasi kembali posisimu. Meski begitu, penting untukmu mendapatkan informasi dari berbagai sumber sehingga kamu dapat membuat keputusan yang tepat.

Well, itulah enam bias psikologi yang harus diwaspadai dan bagaimana kamu bisa mengatasinya. Semoga informasi ini bermanfaat!

LANGGANAN EMAIL MONEY+

DAPATKAN INFO TERBARU
TENTANG MONEY+

Team Money+
Money + is financial blog for everyday life. We cover a wide range of everyday life topics including technology, lifestyle, careers, sharia and women empowerment. We strive to make financial easy to understand and fun for everyone!

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Usaha yang Cocok di Tengah Pandemi Corona

Covid-19 atau virus corona sedang mewabah sehingga semua orang harus diam di rumah mengisolasi diri. Tapi kalau begini terus semua aktivitas jadi...

Tambah Marak, Ini Cara Laporkan Fintech Pinjaman Online Ilegal

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI), Tongam L Tobing menyatakan menghentikan 3.056 fintech pinjaman online ilegal. Hingga kini tercatat...

Butuh Dana Cepat? Ini Pilihan Pinjaman Syariah Bebas Riba

Perlu modal besar untuk buka usaha? Pinjam ditempat lain tapi takut riba? Kamu tidak usah khawatir, pasti saja ada solusinya. Kini ada...

Apa Itu TKB90 dan TKW90?

Amartha terus menjalankan prinsip transparansi kepada masyarakat dengan mencantumkan Tingkat Keberhasilan 90 (TKB90) di halaman utama website Amartha.com. Dengan transparansi ini, pemberi pinjaman akan...