“Kartini – Kartini” Modern Amartha

Kecerdasan pemikiran bumiputera tidak akan maju jika perempuan ketinggalan dalam usaha. Karena perempuan adalah pembawa peradaban. – R.A Kartini

Siapa yang tidak kenal dengan Raden Ayu Kartini atau yang biasa dikenal dengan Raden Adjeng Kartini? Setiap tanggal 21 April, pelbagai acara hari Kartini diperingati di kantor, gedung maupun sekolah dengan menggunakan baju kebaya untuk wanita atau baju daerah untuk pria.

RA Kartini telah menginspirasi masyarakat Indonesia lewat surat-suratnya tentang kondisi perempuan kala itu. Dalam tulisannya, dia mengambarkan perempuan pribumi yang tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Kartini berhasil menarik perhatian masyarakat Belanda dan Indonesia pada saat itu. Kala itu, Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan masih berbentuk pemerintahan kolonial Belanda. Meski begitu, pemikirannya mampu membuat masyarakat tercengang akan keberanian dan perjuangannya untuk kesetaraan gender. Apalagi, pada masa itu, perempuan masih belum mendapatkan kesempatan untuk berbicara di publik.

Pencipta lagu “Indonesia Raya”, WR. Supratman pun menciptakan lagu untuk Kartini pada lagu “Ibu Kita Kartini”. Tentunya, lagu ini sudah tidak asing didengar oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, sangat populer di kalangan siswa. Lagu ini menceritakan tentang perjuangan perempuan untuk merdeka.

Semangat Kartini menular dalam peruahaan Amartha sebagai pionir Peer-to-Peer lending untuk ekonomi inklusif. Sebagai, perusahaan financial technology, Amartha mempertemukan investor-investor baik untuk memberikan pinjaman dana kepada usaha ibu-ibu di pedesaan. Perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini mempunyai misi untuk pengentasan kemiskinan, mencapai kesetaraan gender, dan memberdayakan perempuan serta mengurangi kesenjangan.

Mengutip pebisnis dan filantropis Melinda Gates bahwa jika kita berinvestasi pada perempuan, kita berinvestasi pada sumber kekuatan pembangunan global. Hal itu yang mendasari Amartha untuk terus membangun ekonomi melalui ibu-ibu yang tinggal di desa. Dengan begitu, Indonesia tanpa kemiskinan akan terwujud.

Semangat ini pula yang menular pada para pekerja di Amartha. Seperti perjuangan “Kartini-Kartini” modern di Amartha. Yuk, kita lihat beberapa profil perempuan-perempuan tangguh di Amartha :

Evi Kusumah

Ada sebuah ungkapan : Passion is energy. The power comes things that excites you. Hal inilah yang selalu bisa kita lihat dari sosok perempuan yang akrab disapa Teja ini. Dia selalu tampak bersemangat dengan apa yang ia kerjakan. Role-nya sebagai trainer di Amartha tidak membatas gerak langkahnya untuk melakukan berbagai inisiatif yang bisa membantu kelancaran koordinasi antara berbagai tim di kantor pusat dengan tim lapangan.

Dia mengelola bebrapa program yang signifikan meningkatkan performa Business Partner Amartha di pedesaan, dan berkontribusi dalam banyak hal mulai dari membantu tim product dalam mendesain, melakukan testing, melatih penggunaan aplikasi hingga memberikan support saat ada permasalahan. Semua ini selalu dikerjakan tanpa mengeluh dan selalu tersenyum.

Evi Kusumah
Evi Kusumah

Anita Rosalina

The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existing – Albert Einstein

Mau belajar dan mau berkembang tampak jelas pada Anita. Dapat beradaptasi denga cepat, meski berpindah dari roles yang berbeda, mulai dari mengelola social project ketika masih di tim Operations, melakukan beragam growth strategy melalui sosial media dan digital dari sisi pendana bersama tim marketing, sampai sekarang ini Anita ada bersama tim customer experience Amartha. Anita juga mampu berkomunikasi dengan baik across all functions in order to deliver her tasks.

Anita Rosalina
Anita Rosalina

Indriani

Sejak Januari 2015, dia memulai karirnya di Amartha ketika masih berbentuk koperasi. Di awal transformasi Amartha menjadi perusahaan P2P, dia telah memberikan banyak kontribusi selama masa pertumbuhan Amartha, khususnya dalam menjaga proses peer-to-peer pada marketplace agar dapat terealisasi dan berjalan baik.

Demi memastikan hal itu, Indri selalu bekerja “extra mile” dengan selalu berkoordinasi dan membantu kesulitan yang terjadi di desa binaan Amartha, serta memberikan “support” penuh dengan divisi lain demi menjaga customer satisfaction. Kompleksitas dan dinamika yang terjadi di marketplace tidak mengendurkan semangatnya dalam menjalani tugas dan selalu siap untuk membantu rekan-rekan lainnya.

 Indriani. "When a team takes ownership of its problems, the problem gets solved. It is true on the battlefield, it is true in business, and it is true in life" -  Jocko Willink.

Indriani. When a team takes ownership of its problems, the problem gets solved. It is true on the battlefield, it is true in business, and it is true in life. Jocko Willink.

 

Itulah tiga “Kartini-Kartini modern di Amartha. Mereka berjuang bersama untuk mewujudkan ekonomi inklusif. Semangat itulah yang membuat mereka ingin terus memajukan ekonomi pedesaan lewat ibu-ibu. Anda pun bisa berjuang bersama kami dengan menjadi investor untuk para borrowers. Dana Anda sangat berguna bagi mereka yang hidup di “rural areas”. Mari wujudkan Indonesia tanpa kemiskinan melalui Amartha.

Amartha dan Oxford Microfinance Initiative Gelar Pelatihan di Desa Ciseeng

JAKARTA- Perusahaan financial technology (fintech) yang bergerak di platform peer to peer (P2P) lending, Amartha berkerjasama dengan Oxford Microfinance Initiative (OMI) melakukan beberapa kegiatan seperti penelitian dan pelatihan terhadap mitra usaha Amartha pada 10-11 April 2018 di Amartha Point Ciseeng, desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mitra usaha Amartha yang merupakan ibu-ibu pedesaan terhadap kebersihan lingkungan, serta memperkenalkan praktek usaha yang ramah lingkungan.

Dalam kegiatan ini, OMI mengemas pelatihan dengan modul-modul berisikan materi edukasi yang menarik kepada Business Partner. Kemudian, mereka bersama Business Partner memberikan pelatihan kepada mitra Amartha. “Untuk merancang pelatihan ini, OMI melakukan pendekatan empati berdasarkan pengalaman kehidupan ibu-ibu di desa sehingga bisa memahami masalah dari sudut pandang ibu-ibu,” kata Vice President of Amartha, Aria Widynato di Jakarta, belum lama ini.

OMI merupakan organisasi mahasiswa asal Inggris yang memberikan konsultasi dan penelitian kepada institusi microfinance. Organisasi ini menghubungkan institusi microfinance dengan mahasiswa-mahasiswa dari University of Oxford untuk menciptakan dan mendukung proyek-proyek microfinance. Sebelumnya, mereka juga pernnah melakukan kegiatan ini di beberapa negara berkembang seperti Vietnam, Myanmar, Nepal, Ghana, dan Brasil.

“Amartha dan OMI bekerjasama untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi terhadap ibu-ibu mitra Amartha. Tim OMI terdiri dari enam orang mahasiswa S1 dan S2 dari berbagai bidang studi (finance, philosophy, dan environmental policy) di University of Oxford yang berperan sebagai konsultan bagi Amartha. Mereka berasal dari berbagai negara yakni Cina, Singapura, Srilangka, Kanada, Inggris dan Indonesia,” jelas Aria.

Tim Oxford Microfinance Initiative bersama ibu-ibu mitra usaha Amartha di Desa Ciseeng, Rabu (11/4) di Desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.
Tim Oxford Microfinance Initiative bersama ibu-ibu mitra usaha Amartha di Desa Ciseeng, Rabu (11/4) di Desa Ciseeng, Bogor, Jawa Barat.

Selama di desa tersebut, OMI bertemu dengan Business Manager dan Business Partner serta beberapa ibu yang tergabung dalam majelis (kelompok mitra usaha). Selain pelatihan, mereka juga berdiskusi mengenai masalah-masalah usaha yang dialami oleh ibu-ibu. Tak hanya itu, mereka juga memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Beberapa ibu mempunyai usaha-usaha seperti pembuatan sarung tangan & masker, tahu, golok, keset dan warung.

“Mereka ke majelis dan berdiskusi dengan ibu-ibu dalam beberapa kelompok kecil untuk mengetahui kehidupan ibu-ibu di desa, latar belakang, keinginan dan harapan. Kami ke beberapa usaha ibu-ibu untuk melihat masalah, potensi, dan observasi kehidupan dan keadaan sekitar. Pada brainstorming ini, OMI juga meminta Business Partners untuk melakukan persona (menempatkan diri mereka sebagai ibu-ibu) sebagai cara menyenangkan dan efektif untuk mendapatkan ide sebagai bahan penyusunan modul training,” jelas Aria.

Setelah itu, tambah Aria, OMI bertemu dengan pendiri dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra dan tim Amartha. Dalam kesempatan itu, mereka menyampaikan beberapa temuan saat berkunjung ke desa Ciseeng. Andi menyambut baik tim tersebut.  “Mereka berkunjung ke kantor pusat Amartha untuk menyampaikan hasil temuan dan merencanakan bentuk penyampaian dari hasil dari program ini,” terang Aria.

Oxford Microfinance Initiative bersama tim Amartha memberikan pelatihan kepada ibu-ibu mitra usaha.
Oxford Microfinance Initiative bersama tim Amartha memberikan pelatihan kepada ibu-ibu mitra usaha.

Salah satu tim OMI, Kavi mengungkapkan kebahagiaanya bisa terlibat dalam kegiatan ini. Apalagi, mereka bisa bertemu dengan ibu-ibu pedesaan. Mereka menjadi mengetahui lebih dalam masalah-masalah ekonomi dan sosial di pedesaan terutama microfinance.

Seperti diketahui, Survei Nasional Literasi dan Inklusi keungan (SNLIK) yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  pada 2016, menemukan bahwa indeks inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 67,82 persen. Ini menunjukan bahwa masih terdapat lebih dari 30 persen masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses keuangan, khususnya masyarakat prasejahtera yang sebagian besar tinggal di wilayah pelosok pedesaan.

Dengan hadirnya Amartha sebagai perusahaan fintech yang bergerak di P2P lending, mereka berhasil menghubungkan para wirausaha mikro perempuan di pedesaan yang membutuhkan modal dengan investor di kota yang ingin membantu mendanai usaha mereka. Hingga kini, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini telah menyalurkan dana sekitar  Rp 340 miliar dan sebanyak 95.000 pengusaha mikro telah diberdayakan.

Amartha: Alternatif Permodalan Sektor Maritim Melalui Platform Fintech

JAKARTA – Vice President Amartha, Aria Widyanto mengatakan financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) merupakan salah satu jawaban dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Ini karena, lebih dari 20 juta orang masih hidup dalam garis kemiskinan.

Dalam kesempatan itu, Aria mengatakan platform tekfin dapat menjadi alternatif permodalan sektor maritim. Hal ini memudahkan pengusaha mikro mendapatkan dana. Saat ini, Amartha telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 300 miliar kepada 94.000 pengusaha mikro yang telah terberdayakan. 100 persen pengusaha mikro merupakan ibu-ibu pedesaan.

“Mereka kebanyakan tinggal di pelosok desa. Dan kami berkomitmen dengan masalah itu pada micro lending. Tujuannya agar mereka punya akses lebih setara dalam ekonomi, meningkatkan kesejahteraan dan menurunkan garis kemisikinan,” kata Aria saat menjadi pembicara dalam Young Entrepreneurs Maritime Symposium 2018 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, belum lama ini.

Amartha adalah perusahaan tekfin yang bergerak dalam platform peer-to-peer lending. Dengan P2P lending, Amartha menghubungkan investor yang berada di kota untuk menyalurkan dana pinjaman kepada ibu-ibu pengusaha mikro pedesaan. Jangkauan Amartha hingga ke pelosok daerah yang belum tersentuh layanan perbankan konvensional, membuka peluang bagi para pelaku usaha mikro mendapatkan akses pembiayaan yang lebih mudah. “Mereka (pengusaha mikro)  ternak ikan di kolam ikan, mereka mengelola pertanian ataupun perikanan di segmen sangat-sangat mikro. Meminjam bisa Rp 3,5 juta,” ujarnya

Melalu sistem ini, lanjut Aria, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini ingin agar pengusaha mikro tidak terlalu lama menunggu kucuran dana dari investor. Ini karena, mereka telah memiliki sistem teknologi yang mampu mempersingkat waktu hingga 30 menit. “Kalau meminjam di koperasi bisa tiga minggu atau satu bulan untuk di approve tapi dengan teknologi yang kita gunakan dapat mempersingkat hingga 30 menit. Ini yang kita coba bangun di Amartha,” terangnya.

YMES_Amartha
JAKARTA – Vice President of Amartha Aria Widyanto (ketiga dari kanan) bersama para pengusaha sektor maritim, perbankan serta panitia YEMS 2018 di Hotel Millenium Sirih, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, Amartha juga lebih transparan, aman dan efisien dengan platform ini. Pasalnya, mereka telah menggunakan credit scoring, memanfaatkan jaringan SSL tersertifikasi, sistem pembayaran yang digunakan Amartha juga bekerjasama dengan Veritrans. Perusahaan yang beralih menjadi fintech pada 2015 ini juga telah terdafttar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bahkan, mereka telah bekerjasama dengan Jamkrindo untuk penjaminan (Kafalah) pembiayaan modal kerja (kelompok) bagi pengusaha mikro.

“Jadi di platform yang kita bangun ini fungsinya mirip seperti e-commerce. Bedanya, kalau e-commerce misalnya untuk beli sepatu. Sementara kita (Amartha) bisa “belanja” pengusaha mikro. Misal, Anda ingin mendanai ibu di Banyumas, tinggal klik saja, lihat berapa bagi hasilnya, kemudian pilih ibu tersebut. Semua terlihat di platform kami secara transparan,” jelas Aria.

Dengan mengadopsi sistem pembiayaan berkelompok dan tanggung renteng, terang Aria, Amartha juga memiliki tim lapangan untuk mendampingi dan mengedukasi para mitra usaha di desa serta menjembatani mereka dengan dunia teknologi keuangan digital. “Tidak hanya meminjamkan uang kita juga mementingkan pendidikan bagi mitra usaha. Lebih dari 300 orang mendampingi mereka. Kami mendidik bagaimana mengelola keuangan dengan baik. Lalu, ada bussiness coach dari petugas kami,” ujar Aria.

Amartha turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pilar pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dan pengurangan ketimpangan pendapatan di pedesaan. “Berkomitmen terhadap pembangunan ekonomi dan kesejahteraan warga di pelosok desa bukanlah hal sederhana dan mudah. Kolaborasi dan kerja keras masih diperlukan untuk bisa mencapai target SDG’s pada 2030, menuju bangsa berperadaban maju dan merata,” tutup Aria.

Penyelenggaraan simposium ini digelar untuk interaksi dan sinergi antara Pemerintah, akademisi, serta pebisnis muda Indonesia di bidang kelautan. Selain Amartha, beberapa perusahaan turut menjadi pembicara seperti perusahaan ikan hias hingga perbankan. “Harapannya, agar menyelaraskan visi dan mensinergikan aksi Pemerintah dan pemuda dalam membangun sektor kelautan Indonesia demi mewujudkan visi poros maritim dunia,” kata Deputi bidang Kedaulatan Maritim, Arif Havas Oegroseno saat menjadi pembicara pembuka dalam simposium tersebut.

Menilai Karakteristik Peminjam Melalui Sistem “Credit Scoring“

Credit scoring atau kredit skoring biasa digunakan dalam bank atau perusahaan lembaga keuangan untuk mengevaluasi usah mikro dan kecil dalam mendapatkan kredit. Dengan sistem ini, bank atau lembaga keuangan akan menilai apakah Anda layak atau tidak mendapatkan pinjaman.

Seiring dengan perkembangan zaman, kredit skoring ternyata tak hanya digunakan dalam lembaga keuangan saja, tetapi juga dapat digunakan dalam dunia financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin). Amartha menggunakan sistem ini untuk menilai peminjam. Padahal, sebagian besar peminjam belum tersentuh oleh bank atau lembaga keuangan. Ini karena, karakteristik peminjam merupakan masyarakat pedesaan yang tidak mempunyai akses dalam perbankan (unbanked).

Amartha sebagai pionir platform peer to-peer (P2P) lending untuk pengusaha mikro perempuan (mitra usaha Amartha) di pedesaan telah mengembangkan sistem skoring. Ini merupakan sistem pertama yang dibuat khusus untuk masyarakat “unbanked”. Sistem ini diharapkan dapat memberikan kemudahan untuk akses pinjaman kepada mitra usaha Amartha.

Sistem ini akan memastikan para pendana yakni investor mengetahui informasi atau jejak historis peminjam. Hal ini dilakukan agar investor dapat menilai bahwa peminjam ini layak atau tidak.  Sistem ini juga memudahkan akses pinjaman lebih mudah bagi mitra usaha Amartha.

Amartha berdiri pada 2010, sebagai lembaga keuangan mikro. Pada 2016, perusahaan ini bertransformasi menjadi perusahaan tekfin micro lending. Dalam tekfin, perusahaan yang didirikan oleh Andi Taufan Garuda Putra ini masuk dalam jenis peer-to-peer yakni sebuah jasa keuangan yang mempertemukan peminjam dan pemberi pinjaman mengunakan teknologi informasi atau disebut investasi online.

Amartha percaya bahwa sistem yang biasa digunakan untuk kredit konvensional ini dapat digunakan pula untuk tekfin. Apalagi, bank atau lembaga jasa kuangan konvensional tak mampu menjangkau usaha mikro di pedesaan. “Saat ini, mayoritas analisa kelayakan peminjam dilakukan secara konvensional serta didasari atas kepemilikan jaminan. Selain itu, bank juga membutuhkan laporan keuangan yang memadai untuk melihat performa usaha. Skema ini kami nilai sulit untuk dipenuhi para pelaku usaha mikro yang bergerak di sektor informal seperti peternak ikan cupang, pedagang nasi uduk, dan beragam pengusaha lainnya yang menjalankan usaha di pasar tradisional,” kata Pendiri dan CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Amartha saat ini mendampingi hampir 90.000 mitra usaha mikro dengan menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 318 milyar (data Maret 2018), mengamati bahwa metode kredit skoring yang ada seperti di Bank Indonesia (BI) checking hanya dapat melayani usaha dan perseorangan yang sudah memiliki credit history di perbankan. Sistem ini tidak memungkinkan untuk melayani masyarakat unbanked yang tinggal di pelosok pedesaan. Karena itu, Amartha memperkenalkan analisa risiko melalui pendekatan psikologis dan kepribadian, di samping informasi profil usaha pribadi calon peminjam.

Kami mengukur bagaimana korelasi kemungkinan kredit macet dengan kepribadian seseorang seperti sikap, niat baik, dan kepercayaan diri peminjam,” jelas Taufan.

Hasil dari uji psikometrik ini bisa diterapkan untuk mereka yang sudah memiliki usaha maupun mereka yang baru memulai usaha. Sistem ini diharapkan mampu membuka akses masyarakat unbanked terhadap permodalan yang terjangkau melalui platform amartha.com.

Seperti diketahui, pelaku usaha mikro di Indonesia saat ini masih didominasi oleh masyarakat unbanked alias tidak memiliki akun atau tidak mendapatkan akses pada layanan perbankan. Selain keterbatasan lokasi geografis untuk menjangkau layanan keuangan, pada umumnya masyarakat di segmen ini berpendidikan rendah dan bekerja di sektor informal.

Pada September 2015, Asian Development Bank mencatat terdapat 78 persen dari 255 juta penduduk Indonesia masuk dalam kategori unbanked. Angka tersebut berada jauh di atas rata masyarakat unbanked  global, yaitu 38 persen.

Sementara itu, besarnya proporsi masyarakat unbanked yang bergerak di UMKM merupakan potensi besar terhadap GDP dan penyerapan tenaga kerja, jika dapat diberdayakan secara optimal. Pada 2013, terdapat 57 juta UMKM di Indonesia yang mampu menyerap 96 persen pekerja dan berkontribusi pada GDP Indonesia sebesar 58 persen.

Keunggulan dari sistem yang dikembangkan Amartha ini adalah sistem yang dinamis berbasis big data (himpunan data) dan machine learning (statistik komputasi). Kecepatannya dalam proses loan origination atau pemprosesan aplikasi untuk menghasilkan simulasi jumlah plafon, rate, dan jangka waktu yang optimal untuk setiap calon peminjam. Sistem skoring yang dikembangkan oleh Amartha dirancang agar sesuai dengan karakter masyarakat.

Amartha sebagai pionir kredit skoring untuk masyarakat unbanked memiliki tiga cara, yakni:

Pertama, Amartha menggunakan big data dan maching learning. Dengan semakin bertumbuhnya populasi peminjam, sistem ini akan terus memberikan informasi borrower (peminjam) secara real-time serta memberikan informasi akurat yang berkaitan dengan kemampuan dan kesediaan peminjam dalam membayar angsuran.

Kedua, Amartha dapat mendaftarkan aplikasi, mensimulasi batas kredit, suku bunga atau tenor pinjaman serta pinjaman awal jauh lebih cepat. “Kami dapat menyajikan tabel simulasi pinjaman secara real-time. Tim engginering dan data science Amartha berkomitmen untuk terus mengoptimalkan sistem saat ini sehingga kami dapat menghapus proses administrasi yang lama seperti kredit pada umumnya. Hal ini membuat kami dapat mencairkan dana dengan cepat,” kata Andi.

Ketiga, Amartha melakukan riset secara mendalam dalam memastikan sistem penilaian kreditnya sesuai dengan karakter masyarakat yang tidak memiliki rekening bank dan sektor informal di Indonesia.

Saat ini, Amartha memiliki skema kredit skoring yang beragam dari A sampai E untuk menilai borrower. Kemudian, investor mendapatkan tingkat pengembalian sebesar 12 persen hingga 17 persen. Bagi borrower yang telah meminjam lebih dari lima kali, sudah dapat meminjam Rp 7 juta. Melalui pembiayaan lanjutan mulai dari plafond Rp 7 juta ini, Amartha memberikan keringanan dan kemudahan kepada pengusaha mikro terbaik Dengan memberikan nilai bagi hasil yang cenderung lebih rendah ini, investor mendapatkan bagi hasil sebesar 12,5 persen p.a. (flat) untuk satu borrower terbaik.

Amartha menggunakan sistem ini sebagai bentuk mitigasi risiko terbaik. Ini karena, hanya peminjam yang berkualitas yang dapat terdaftar di marketplace. Jadi tunggu apa lagi? Mulailah  pendanaan Anda dan dapatkan keuntungan yang berdampak sosial untuk masyarakat pedesaan.

Tanamkan Hal Ini, Sebelum Berinvestasi

Kalau enggak investasi sekarang, kapan lagi? Investasi-lah mulai sekarang sebelum uang Anda habis percuma. Lalu, siapa yang butuh investasi? Bagi sebagian masyarakat, investasi hanya untuk orang yang mempunyai uang “berlebih”. Padahal, berbagai produk investasi sekarang sudah berani dengan dana minimum. Bahkan, ada yang berani mematok dana sekecil-kecilnya.

Sebenarnya, seperti dikutip dari buku “Financial Wisdom” mayoritas masyarakat khususnya pekerja maupun yang sudah berkeluarga adalah yang paling membutuhkan investasi. Untuk apa? Ya, untuk kebutuhan masa depan seperti dana pensiun, pendidikan anak, usaha atau kebutuhan lainnya.

Mengutip quote dari investor tersukses di dunia, Warren Buffet, “Rule No 1 : Never lose money, Rule No. 2 : Never forget rule no. 1”. Nah, jangan menyesal di hari depan jika uang Anda habis percuma. Anda juga harus teliti memilih investasi. Ayo, kelola keuangan lebih baik untuk masa depan cerah.

Ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan sebelum berinvestasi, yakni:

Siapa yang Butuh Investasi?

Jika salah satu jawabannya adalah untuk memenuhi kebutuhan masa depan, maka Anda sudah siap berinvestasi. Sebelum memulai berinvestasi Anda harus mempunyai mindset untuk masa depan. Mempunyai pikiran ke depan akan memudahkan Anda untuk memulai berinvestasi, meskipun saat ini mungkin belum mempunyai dana.

Investasi dengan Tujuan

Lalu, investasi untuk tujuan apa? “Untuk mempersiapkan dana pensiun atau dana pendidikan anak,” jawab Anda. Berinvestasi dengan tujuan, itulah hal penting sebelum berinvestasi. Anda berinvestasi untuk mempersiapkan kebutuhan hidup untuk masa depan Anda sendiri, keluarga  atau anak.

Risiko Musibah

Anda juga harus memikirkan risiko yang terjadi berupa kehilangan aset atau harta benda akibat pencurian, kecelakaan atau bencana alam. Jika penghasilan Anda memadai, bisa dipertimbangkan untuk memulai investasi dalam berbagai bentuk. Anda bisa menggunakan untuk asuransi, menabung atau berinvestasi.

Gunakan “Latte Factor

Anda belum mempunyai dana yang cukup untuk berinvestasi. Mungkin Anda harus hidup hemat. Survei pada 2016 dari Bustle, sebagian besar orang menghabiskan uang untuk makan diluar.  Kebiasaan minum kopi di kafe, makan bersama teman-teman diluar dan memesan makanan via online juga termasuk dalam survei tersebut. Nah, Anda harus mengikuti cara Latte Factors yang dicetuskan oleh David Bach, perencana finansial dari Amerika Serikat. Menurut David, pengeluaran-pengeluaran kecil harus ditiadakan jika Anda mau berhemat. Misalnya, kopi yang dibeli di coffee shop sekitar Rp 30 ribu. Bayangkan dalam 30 hari, Anda menghabiskan Rp 900 ribu untuk membeli kopi. Jika setahun, Anda membeli kopi dapat menghabiskan Rp 10 juta. Uang itu bisa Anda tabung atau berinvestasi. Banyak hal yang bisa Anda hemat, dari snack, belanja pakaian atau pengeluaran kecil lainnya. Di Amartha, Anda bisa memulai investasi dengan dana sebesar Rp 3 Juta

Keamanan Investasi

Sebelum berinvestasi Anda juga harus mengetahui keamanan investasi. Baca buku, nonton video dan ikut seminar/workshop tentang investasi. Kemudian, lihat dulu keamanan perusahaan investasi tersebut. Apakah sudah terdaftar Otoritas Jasa Keuangan (OJK)? Bagaimana track recordnya? Apakah aman? Di Amartha kami telah bekerjasama dengan Jamkrindo (Jaminan Kredit Indonesia). Amartha juga sudah  memiliki sistem credit scoring untuk memastikan bahwa peminjam atau mitra Amartha terseleksi dengan baik, telah terdaftar OJK serta keamanan dalam website dengan sertifikat SSL

Di Amartha, Anda selain berinvestasi juga memberikan dampak sosial. Sebagai platform peer-to-peer lending, Amartha menghubungkan para wirausaha mikro perempuan di pedesaan yang membutuhkan modal dengan orang-orang baik di kota yang ingin membantu mendanai usaha mereka. Ternyata, antusiasme masyarakat demikian besar. Sampai dengan tahun 2017 ini, menyalurkan Rp. 225 miliar permodalan kepada 70.977 perempuan mitra di 532 desa di Pulau Jawa dengan gagal bayar (NPL) mendekati 0%. Amartha mendorong terciptanya potensi-potensi ekonomi baru di desa, seperti lilin-lilin yang digambarkan oleh Bung Hatta sebagai cahaya yang menerangi Indonesia. Menciptakan kebahagiaan yang lebih merata, melalui investasi yang berdampak sosial.

Nah, tunggu apalagi, jangan sampai Anda menyesal di kemudian hari. Berinvestasi mulai sekarang.

Fintech untuk Kemajuan Ekonomi di Indonesia

Vice President (VP), PT. Amartha Mikro Fintek (Amartha) Aria Widyanto menjadi pembicara dalam acara “Fintech, Investasi Bodong dan Cyber Security“, Fintech Days 2018, Hotel Santika Dyandra, Medan, Jumat (23/3) pagi.  

Beberapa pembicara lain yang turut hadir datang dari berbagai latar belakang berbeda, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Intelijen Negara (BIN), Bareskrim RI dan perusahan tekfin lainnya.

Aria mengatakan financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) mempunyai banyak manfaat bagi kemajuan perekonomian di Indonesia. Selain meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan, pengunaan tekfin diakui lebih cepat, praktis dan efisien. Apalagi, Amartha melayani sektor usaha mikro perempuan di desa yang unbanked untuk mendapatkan pinjaman dari investor.

“Segmen market yang dilayani Amartha memang fokus mengurusi masalah micro lending yang tinggal di rural area (area pedesaan). Karena itu, tekfin memberikan banyak manfaat daripada disbenefit. Tekfin lebih mempercepat inklusi keuangan,” kata Aria.

Selama ini, lanjut Aria, masyarakat lebih mengenal investasi saham, properti, emas, dan lainnya. Padahal, ada investasi lain yang lebih menarik, aman dan efisien yakni tekfin. Namun, masyarakat juga harus jeli dalam berinvestasi di platform tekfin. Masalah keamanan dan risiko harus menjadi pertimbangan bagi masyarakat yang ingin berinvestasi.

“Kalau di Amartha kami telah bekerjasama dengan Jamkrindo (Jaminan Kredit Indonesia). Lalu, kami sudah memiliki sistem credit scoring untuk memastikan bahwa peminjam atau mitra Amartha terseleksi dengan baik. Amartha ingin mengedukasi dan juga memastikan investasi platform tekfin itu lebih aman dan terjamin,” ujar Aria.

Aria menjelaskan pertumbuhan tekfin semakin pesat di Indonesia. Bahkan,ada potensi kolaborasi yang bisa dilakukan antara perbankan dengan tekfin. Saat ini, Amartha telah berkolaborasi dengan Bank Mandiri. Tentunya, masih banyak hal yang dapat dikolaborasikan dengan perbankan. “Pertumbuhan tekfin sangat bagus dan menjanjikan. Potensi kolaborasi yang bisa dilakukan perbankan dan tekfin juga sangat beragam, karena karakteristik keduanya yang berbeda namun dapat saling melengkapi,” terang Aria.

Seperti diketahui, OJK mencatat sepanjang tahun 2017 perkembangan pengguna jasa tekfin P2P lending  semakin pesat baik pemberi pinjaman maupun pencari pinjaman. Pada akhir 2017, total jumlah pemberi pinjaman mencapai 100.940 orang, atau naik 603 persen dari Desember 2016 sebanyak 14.364 orang. Pulau Jawa masih mendominasi pemberi pinjaman sebesar  75.769 orang (75 persen) dibanding luar pulau Jawa sebesar 24.028 orang (24 persen) dan luar negeri sebesar 1.143 orang (1 persen).

Seperti dilansir ojk.go.id, semakin pesatnya pertumbuhan tekfin membuat OJK menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016. Dengan adanya regulasi ini, P2P Lending diharapkan dapat bertumbuh dan bisa jadi alternatif sumber pembiayaan baru bagi masyarkat. Tak lain, regulasi ini untuk melindungi kepentingan konsumen terkait keamanan dana dan data, serta kepentingan nasional terkait pencegahan pencucian uang, pendanaan terorisme, dan stabilitas sistem keuangan.

Amartha sendiri telah resmi terdaftar dan diawasi OJK. Perusahaan ini terdaftar sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dengan nomor registrasi S-2491/NB.111/2017. Menurut Aria, sesuai dengan regulasi pemerintah, saat ini Amartha juga sedang mempersiapkan pengajuan izin ke OJK. “Hal semacam ini sangat baik, dan perlu. Kerjasama dengan regulator pastinya akan meningkatkan kepercayaan konsumen, juga menjaga kualitas dari tekfin di Indonesia sendiri”, tutup Aria.

Amartha didirikan oleh Andi Taufan Garuda Putra pada bulan April 2010 sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dengan misi menghubungkan pelaku usaha di pedesaan yang kesulitan mendapat modal usaha. Pada tahun 2015, Amartha secara resmi bertransformasi menjadi perusahaan teknologi finansial (FinTech) dengan layanan peer to peer (P2P) lending marketplace untuk menghubungkan langsung pengusaha mikro (UKM) dengan pemodal (investor) secara online. Transformasi tersebut memungkinkan individu atau kelompok berinvestasi untuk UKM yang mencari pinjaman. Berbasis teknologi peer-to-peer (P2P), kini investor lebih nyaman dalam memilih mitra usaha yang memerlukan pembiayaan, berdasarkan profil risiko dan imbal hasil yang diinginkan.  

Amartha telah berhasil menekan risiko gagal bayar (NPL) hingga 0% selama 7 tahun terakhir, dengan total dana tersalurkan lebih dari Rp 307 miliar kepada lebih dari 89.000 mitra perempuan di pedesaan. Risiko terukur, investasi dengan impact sosial yang menguntungkan. Amartha percaya dengan terus memudahkan akses permodalan untuk usaha mikro dan kecil akan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat piramida bawah, membangun ketahanan ekonomi, dan mewujudkan keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website www.amartha.com

 

Menyaksikan Ibu Pengrajin Amartha Sambil Menikmati Alam Pedesaan

Menikmati keindahan alam pedesaan yang sunyi sambil menikmati suasana dan pemandangan yang khas seperti sawah dan perkebunan sambil makan siang bersama warga desa. Bahkan, Anda juga dapat menyaksikan dan ikut serta dalam kesibukan warga desa. Menarik bukan?

Ya, Anda bisa menikmati semuanya dalam Amartha Village Tour, sebuah aktivitas bulanan yang diinisiasi oleh salah satu pionir financial technology (fintech) atau tekfin (teknologi finansial) Indonesia, Amartha. Amartha Village Tour merupakan salah satu media yang digunakan Amartha untuk memberi kesempatan pada masyarakat luas agar lebih mengenal proses dan dampak sosial yang dihasilkan dari aktivitas pendanaan melalui platform Amartha. Acara yang rencananya akan kembali digelar pada 24 Maret 2018 ini akan bertempat di desa Kemang, Bogor, Jawa Barat

Anda akan melihat lebih dekat, bahkan dapat terlibat secara lansung dalam membuat produk-produk para ibu pengrajin Amartha. Dengan semangat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, Amartha mendukung pembiayaan bagi pengusaha mikro perempuan untuk sektor produktif, seperti perdagangan, pertanian dan peternakan serta industri rumah tangga. Hingga tahun 2017, Amartha telah menyalurkan lebih dari Rp.225 milyar kepada 70,977 usaha di lebih dari 500 desa di Jawa, dengan tetap menjaga tingkat ketepatan waktu pembayaran di atas 99,7%.

“Kami menghubungkan para wirausaha mikro perempuan di pedesaan yang membutuhkan modal dengan orang-orang baik di kota yang ingin membantu mendanai usaha mereka. Ternyata, antusiasme masyarakat demikian besar. Di tahun 2017 ini, sebanyak 9.833 orang pendana (lenders) mempercayakan investasi mereka ke Amartha, naik tiga belas kali lipat dari 748 orang di tahun sebelumnya,” kata Andi Taufan Garuda Putra selaku Founder dan CEO Amartha di Jakarta, belum lama ini.

Amartha sendiri merupakan tekfin yang bergerak di Peer-to-Peer (P2P) lending (penanaman modal dengan teknologi informasi).  Dengan P2P lending, perusahaan yang berdiri sejak 2010 ini memanfaatkan teknologi itu untuk meningkatkan efisiensi operasional sehingga dapat menjangkau desa-desa terpencil dan memproses pengajuan pinjaman dengan lebih cepat. Mengadopsi sistem pembiayaan berkelompok dan tanggung renteng (Grameen Model), Amartha juga memiliki tim lapangan untuk mendampingi dan mengedukasi mereka.

Menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi keuangan (SNLIK) yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tahun 2016, menemukan bahwa indeks inklusi keuangan Indonesia baru mencapai 67,82%. Ini menunjukan bahwa masih terdapat lebih dari 30 persen masyarakat Indonesia yang belum memiliki akses keuangan, khususnya mereka, masyarakat prasejahtera yang sebagian besar tinggal di wilayah pelosok pedesaan.

Dengan menghubungkan pendana yang sebagian besar tinggal di perkotaan dengan mitra usaha prasejahtera di pelosok desa, lanjut Andi, Amartha menempatkan diri sebagai perantara dalam membantu pendana yang ingin berinvestasi kepada mitra usaha perempuan di pelosok desa yang bertekad untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka. “Platform P2P lending memungkinkan sumber pendanaan yang lebih terbuka dan demokratis, sehingga menciptakan kesempatan yang lebih besar bagi mitra usaha di desa untuk mendapatkan pendanaan yang terjangkau,” terang Andi.

Tentunya, Andi menambahkan, hal ini tidak hanya memberi manfaat bagi pendana yang akan menerima imbal hasil finansial, tetapi juga kesempatan bagi mitra usaha untuk meningkatkan pendapatan mereka sehingga bisa membiayai anak-anak bersekolah, rumah yang lebih layak serta nutrisi yang lebih baik.

“Melalui konsep P2P yang menciptakan keterhubungan antara desa dan kota tersebut, Amartha mendorong terciptanya potensi-potensi ekonomi baru di desa, seperti lilin-lilin yang digambarkan oleh Bung Hatta sebagai cahaya yang menerangi Indonesia. Menciptakan kebahagiaan yang lebih merata, melalui investasi yang berdampak sosial,” tutup Andi.

Dengan kegiatan A Village Tour ini, menurut Relationship Manager Amartha, Dede Kurnia Bowo, Amartha menjadi P2P lending Indonesia pertama yang melakukan pendekatan kreatif dalam mengkomunikasikan visinya lewat berbagai kegiatan unik yakni mengajak masyarakat luas untuk turut berpartisipasi dalam mendorong para pengusaha kecil dan mikro menjadi makin mandiri dan berdaya.

“Anda akan menyaksikan dan merasakan secara lansung kesederhanaan dan perjuangan mereka, para ibu mitra Amartha yang Anda danai, juga mendapatkan pengalaman  yang mendalam dan tak terlupakan bagi hidup Anda,” kata Dede.

Salah satu investor Amartha, Melissa Eveline yang telah mengikuti village tour beberapa waktu lalu mengatakan kebahagiaannya dapat mengikuti kegiatan ini. Pasalnya, dia menjadi mengenal kehidupan para ibu pengrajin Amartha serta dampak sosial berkat investasi ini.

“Terkadang sebagai orang Kota yang dimanjakan dengan berbagai kemudahan membuat saya lupa masih banyak saudara kita yang harus berjuang keras dengan keterbatasan, melalui program Amartha Visit Village ini menyadarkan saya bahwa saya juga dapat membantu dan menyejahterakan mereka. Saya dengan senang hati menjadi bagian dari visi Amartha untuk melakukan investasi, yang berdampak bagi saya dan orang lain, terima kasih Amartha,” kata Melissa.

Inilah hal yang mendasari pemilihan Amartha Village Tour sebagai kegiatan rutin yang diadakan oleh Amartha ke depan dalam rangka memfasilitasi masyarakat luas, khususnya para investor, untuk merasakan dan melihat secara langsung perjuangan dari masyarakat di piramida terbawah dalam meraih kehidupan yang lebih sejahtera.

Nah, semakin penasaran kan bagaimana keseruan Amartha Village Tour ini? Segera daftarkan diri Anda di bit.ly/AVillageTour

Amartha: Bangun Ekonomi Pedesaan Lewat Fintech

Financial technology (fintech) atau teknologi finansial (tekfin) semakin berkembang pesat di Indonesia. Dengan semakin majunya teknologi, Indonesia harus bersiap diri dengan munculnya teknologi-teknologi baru terutama di dunia tekfin.

Ada beberapa jenis tekfin diantaranya, crowd funding (penggalangan dana), e-money (uang elektronik), payment gateway (metode pembayaran berbasis digital) dan peer-to-peer (p2p) lending (pinjam meminjam berbasis teknologi informasi.

PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) adalah contoh tekfin Indonesia peer-to-peer (p2p) lending yang menyalurkan dana dari penanam modal perseorangan untuk kemudian dipinjamkan sebagai modal usaha mikro bagi perempuan-perempuan di pedesaan. Bisnis model Amartha sendiri sangat kental dengan nilai-nilai sosial yang seirama dengan sustainable development goals (SDG) terutama pilar pengentasan kemiskinan, partisipasi perempuan dalam pembangunan dan mengurangi ketimpangan pendapatan di pedesaan. SDG sendiri merupakan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kemaslahatan manusia dan bumi. Karena itu, tak semua tekfin memiliki visi yang sama dengan Amartha

“Kami berkomitmen untuk menghubungkan para pengusaha mikro unbanked (masyarakat yang sama sekali tidak punya akses dengan layanan keuangan), khususnya para perempuan di pedesaan dengan para pendana urban yang berinvestasi untuk mendapatkan keuntungan, sekaligus menciptakan dampak sosial,” kata Andi Taufan Garuda Putra, Founder dan CEO Amartha di Jakarta, belum lama ini.

Ternyata, lanjut Andi, antusiasme masyarakat demikian besar. Pada 2017, sebanyak 9.833 orang pendana (investor) memercayakan dana mereka melalui Amartha, naik tiga belas kali lipat dari 748 orang di tahun sebelumnya. Berkat kepercayaan ini, Amartha berhasil menyalurkan Rp 297 miliar permodalan kepada 87.631 perempuan mitra di lebih dari 500 desa di pulau Jawa.

“Dengan rata-rata penghasilan mitra naik dari Rp 2,5 juta di tahun 2016 menjadi Rp 3,5 juta di tahun 2017. Kita bisa melihat lebih banyak anak-anak yang pergi ke sekolah, rumah yang semakin layak huni serta meningkatnya taraf hidup dan kualitas gizi di puluhan ribu rumah tangga di pelosok desa. Kita melihat Indonesia yang semakin dan merata bersama Amartha,” ujar Andi.

Andi menjelaskan Amartha sendiri berdiri sejak 2010 sebagai lembaga keuangan mikro konvensional yang bertransformasi pada 2016 menjadi sebuah perusahaan tekfin. Amartha melihat bahwa layanan keuangan perbankan konvensional belum dapat dinikmati oleh ibu-ibu pedesaan. Dengan menekan risiko gagal bayar hingga 0% selama tujuh tahun terakhir, Amartha mempunyai konsep investasi unik, aman, dan menguntungkan

“Amartha memiliki manajemen risiko yang unik untuk menjaga rasio pembiayaan bermasalah (NPL-Non Performing Loan), yaitu dengan menerapkan sistem pembiayaan kelompok atau group lending (terdiri dari 15 – 25 orang dalam satu lingkungan) yang disebut Majelis Amartha untuk menguatkan semangat gotong royong atau tanggung renteng apabila terjadi kredit macet,” terang Andi.

Selain itu, lanjut Andi, Amartha menawarkan alternatif berinvestasi yang menguntungkan bagi para investor dengan rata-rata imbal hasil mencapai 12 – 17,5% per tahun. Hal ini tentunya akan lebih menarik dibandingkan instrument investasi konvensional. Amartha juga menjamin keamanan berinvestasi bagi para investor dengan memberikan solusi melalui sistem skor kredit berdasarkan pada pendekatan psikometri untuk menilai kelayakan calon peminjam dan mengetahui riwayat pinjaman. “Sistem yang transparan ini juga membantu para investor untuk dapat berinvestasi di segmen mikro secara lebih aman dan nyaman.” jelasnya.

Kolaborasi Bank dengan Tekfin

Pada 9 Maret 2018, Amartha mengikuti panel discussion yang diselenggarakan Bank Mandiri di Batam. Ini merupakan acara diskusi kolaborasi perbankan konvensional dan fintech startup. Seperti diketahui, Amartha telah bekerjasama dengan Bank Mandiri pada 2017.

Direktur Utama PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) Eddi Danusaputro mengatakan PT Bank Mandiri Tbk melalui perusahaan modal ventura MCI telah melakukan investasi dengan Amartha. Pasalnya, Amartha mempunyai visi yang sama yakni meningkatkan inklusi keuangan di seluruh Indonesia.

“Bank Mandiri tidak terlalu kuat di mikro, karena itu kami investasi ke Amartha. Rata-rata besaran pembiayaan Rp 2-3 juta per peminjam. Melalui kolaborasi ini, Amartha bisa kami bawa sebagai inovasi ke dalam Bank Mandiri. Di sisi lain, kami membantu Amartha menaikkan rekam jejak mereka,” kata Eddi di Jakarta.

Chief Executive Officer (CEO) Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro saat berbicara di IT Summit, Batam, Jumat (9/3)
Chief Executive Officer (CEO) Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro saat berbicara di IT Summit, Batam, Jumat (9/3)

Andi menerangkan Bank Mandiri melihat tekfin sebagai rekan terpercaya untuk dapat menjangkau segmen masyarakat di pedesaan. Hubungan ini berlaku saling menguntungkan, terutama untuk merangkul lebih banyak pendana urban. Pasalnya, jika institusi seperti bank saja percaya pada layanan tekfin untuk menjangkau segmen mikro, semestinya pendana perseorangan pun akan lebih percaya diri untuk mulai menambah aset investasi di sektor P2P lending.

“Karakter peminjam di desa yang tidak memiliki kredit historis bukanlah menjadi tanda mutlak bahwa mereka memiliki risiko yang tinggi untuk diberikan dana. Karena sebenarnya kalau di pedesaan cukup susah untuk menjangkau dan mengajukan pinjaman di bank, padahal dari segi karakter, mereka cukup bertanggung jawab kok,” kata Andi.

Berdasarkan data Accenture, investasi pada bidang fintech terus meningkat dengan nilai mencapai tiga kali lipat dari US$ 92,8 juta menjadi US$ 2,97 miliar dalam kurun waktu 2008 hingga 2013. Data Statista juga menunjukkan, nilai transaksi perusahaan fintech di Indonesia sepanjang tahun 2017 ini diprediksi akan tumbuh 27,5 persen menjadi US$ 18,65 miliar dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$ 14,5 miliar.

Vice President (VP) of Growth Amartha, Fadilla Tourizqua Zain atau yang akrab disapa Ika mengatakan kerjasama ini merupakan bentuk kepercayaan bank terhadap tekfin. “Kami sangat senang Bank Mandiri telah percaya dengan Amartha. Saat ini kerja sama yang kami lakukan memang masih baru pendanaan kapital, tapi tidak menutup kemungkinan akan ada kolaborasi lain” kata Ika.

Menurut Ika, Amartha tetap membuka pintu selebar-lebarnya untuk bank lain bekerja sama. Pasalnya, kolaborasi bank dengan tekfin akan memberikan dampak positif yang lebih besar. Terlebih, perkembangan tekfin sangat pesat tak hanya di dunia tetapi juga di Indonesia  “Tentunya, kami juga membuka bank lain untuk bekerja sama,” tutupnya.

 

Blockchain dalam Dunia Perbankan dan Fintech Indonesia, Mungkinkah?

Sistem teknologi Blockchain sedang marak dibicarakan di tahun ini. Beberapa negara sudah mulai memanfaatkan teknologi ini. Dalam waktu tujuh tahun, sistem ini mendunia. Padahal, sistem ini sudah ada sejak 2008. Lalu, apa itu blockchain?

Blockchain mirip seperti buku kas di bank yang mencatat transaksi. Namun, transaksi melalui blockchain dapat dilihat oleh semua pengguna. Berbeda dengan transaksi di bank yang hanya dapat diakses oleh pihak berwenang.

Sistem teknologi ini pertama kali digunakan pada Bitcoin oleh Satoshu Nakamoto pada 2008. Konsep ini mengambil konsep cryptographically yang dibuat oleh Stuart Haber dan W. Scott Stornetta.

Hal ini memungkinkan transaksi antara A dan B terjadi tanpa perantara. Dalam waktu singkat, murah dan aman, teknologi ini dapat lebih baik dibandingkan bank atau institusi lain. Bahkan, dapat diakses oleh siapa saja. Ini mengubah pendekatan yang sentralistik menjadi terdesentralisasi lewat sistem tersebut.

Layaknya sebuah Google Document, Anda dapat melihat dan menambahkan dokumen. Namun tak bisa mengubah informasi tersebut. Mereka menggunakan hitung-hitungan matematika bernama kriptografi. Dengan kriptografi, orang lain tidak dapat mengubah maupun meniru rekaman tersebut.

Bisa dicontohkan seperti sebuah kelompok, dari 10 orang itu mendelegasikan kepada satu orang untuk menjadi bendahara. Dia yang bertugas mencatat pembayaran di kelompok tersebut. Kepercayaan hanya diberikan kepada satu orang saja. Berbeda dengan blockchain, dari 10 orang itu didaulat sekitar lima orang untuk mencatat pembayaran di kelompok tersebut. Ini akan lebih efisien, aman dan transparan. Ini karena, ada lima orang yang terlibat dalam pencatatan pembayaran itu. Jika dilakukan dalam institusi, maka transaksi pembayaran akan lebih aman dan jauh dari tindak korupsi.

Sumber: Startup Stock Photos dari Pexels
Sumber: Startup Stock Photos dari Pexels

Soal keamanan, sistem ini menjamin keamanan pengguna. Misalnya, seperti dikutip Tom Chitty dari CNBC, seorang petani kehilangan sertifikat tanah akibat musibah banjir di rumahnya. Semua data hilang begitu saja. Jika sertifikat itu disimpan di bank atau instansi lainnya, tetap tidak ada bukti konkret atas kepemilikan tanah itu. Hal ini tentu membuat petani akan diusir dari tanah itu. Namun, jika dia menggunakan blockchain, maka tidak akan terjadi hal tersebut. Pasalnya, sertifikat tanah telah disimpan dengan aman di sistem tersebut.

Selain Bitcoin, beberapa bank di Inggris, Kanada, Singapura dan Malaysia juga sudah mengunakan teknologi ini untuk menghemat waktu biaya operasional. Teknologi ini tidak hanya dipakai dalam industri keuangan saja, tetapi juga pemasaran, kesehatan hingga pemerintahan. Beberapa negara sudah mulai menggunakan sistem itu seperti Estonia yang digunakan di rumah sakit untuk rekam medis pasien. Bahkan, negara itu akan menggunakannya untuk pemilihan umum. Di Amerika Serikat, beberapa perusahaan juga menggunakannya untuk membantu operasional korporasi. Di Uni Emirat Arab, pemerintahan daerah Dubai akan menggunakannya untuk pemerintahan pada 2020. Begitu juga dengan Cina, mereka menggunakan sistem ini untuk menyelesaikan keamanan pangan.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Bank Indonesia sedang mengkaji sistem Blockchain. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengaku akan terus mendorong pemanfaatan teknologi ini untuk sektor keuangan. Baginya, teknologi muktahir merupakan hal yang positif bagi kemajuan BI. “Kami akan lakukan pengkajian pemanfaatan blockchain ini,” kata Agus.

Sementara di dalam dunia fintech, sistem ini juga bukan tidak mungkin diadaptasi. Di Eropa, kini telah dikenal istilah peer-to-peer (P2P) crypto lending. Ini merupakan alternatif lain dalam P2P lending yang telah kita kenal sekarang.  Krypto merupakan mata uang digital yang kini mulai dikenal seantero dunia. Beberapa tahun ini, industri krypto mulai berkembang seperti Bitcoin.

Benefit yang didapat dalam menggunakan krypto yakni borrowers (penerima dana pinjaman) tanpa akun bank atau credit history dapat menerima pinjaman. Suatu hal yang tak akan mungkin terjadi dalam sistem bank tradisional. Blockchain dalam platform P2P lending dapat memberikan pinjaman kepada klien yang  sebelumnya tidak dapat berpartisipasi dalam ekonomi. Hal ini membuat konsep P2P krypto lending terdengar sangat menjanjikan. Apalagi dengan angka masyarakat unbankable di Indonesia yang masih sangat tinggi. Dari 241 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 60 juta orang yang memiliki rekening bank.

Penggunaan teknologi seperti blockchain akan membuat pemberi pinjaman, penerima pinjaman dan penyimpanan uang lebih sederhana, transparan dan efisien. Artinya, partisipasi masyarakat dalam ekonomi bisa semakin ditingkatkan. Selangkah lebih dekat dengan Inklusi Ekonomi dengan Blockchain? Mungkin saja. Bagaimana menurut Anda?

(Tim Amartha)

Amartha On International Women’s Day: QnA Bersama William Hendradjaja

International Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional diperingati pada 8 Maret sebagai keberhasilan perempuan di bidang ekonomi, politik dan sosial. Hari besar ini hadir dengan tema Press for Progress. Tema ini diangkat agar wanita terus bergerak dan berani untuk menggapai kesetaraan gender di segala bidang.

“#PressforProgress adalah ajakan yang untuk memotivasi mempersatukan teman rekan kerja, dan seluruh masyarakat untuk berpikir, bertindak, dan gender inclusive,” tulis situs Internasional Women’s Day.

Kali ini, Amartha mendapat kesempatan untuk QnA (wawancara) dengan Co-Founder Impact Hub Jakarta, William Hendradjaja. Bagaimana pandangannya tentang perempuan serta peran komunitas co-working space Impact Hub Jakarta? Berikut hasil wawancara kami:

Q: Hai William, Apa kabar? Boleh tahu kapan Impact Hub Jakarta terbentuk?

A: Baik. Jadi, Impact Hub Jakarta terbentuk pada Juni 2017, dengan semangat untuk membuat sebuah space dan ekosistem yang  mendukung pertumbuhan social enterprise di Indonesia

Q: Terus bagaimana Impact Hub Jakarta terbentuk?

A: Our Impact: Brand recognition as part of global network (100+ hubs, 10 in Asia and growing), A dedicated coworking space for entrepreneurs (or other industries such as design, tech looking to collaborate with impact sector).

To connect Indonesia’s entrepreneurs with a global, likeminded community – via international partnerships and exclusive networks affiliated with Impact Hub Global. Opportunity to raise the profile of social entrepreneurs and innovators in Indonesia on a global scale and serve as an access point to our global partners and leaders in social impact ecosystem to collaborate with to create programs and events in Indonesia.

To bridge the gap between tertiary education system in Indonesia, to prepare the next generation with capacity building and practical training opportunities and business networking so they can be more effective agents of change in society. To foster cross-sector collaborations through our strong industry, NGO, government and corporate networks.

Q: Apa saja aktivitas yang dilakukan Impact Hub selama ini?

A: Kita membuat kegiatan yang mendukung ekosistem, baik dari seminar, event, kelas, bootcamp maupun program inkubasi seperti www.impactbyte.com, www.socialinnovation.id dan https://www.instagram.com/localchampionsid/

Q: Berbicara tentang peran perempuan di Indonesia. How would you describe it?

A: Bercerita sedikit tentang film Netflix Series yang baru saya tonton “Mindhunter”, bercerita tentang dua agen FBI di Amerika Serikat yang ingin mencari tahu kenapa pada tahun 1970 banyak sekali bermunculan serial killers. Setelah mengelilingi maximum prisons all over the US, most and almost all of the serial killer have an abusive mother.

Peran perempuan terutama ibu sangat sangatlah penting. Ke depannya perempuan mulai (dan sudah seharusnya) menunjukkan peranannya di Indonesia. Hal ini terutama bisa kita lihat dari segi pemerintahan. Di mana terdapat lebih banyak menteri perempuan daripada sebelumnya. Bahkan, ada dua menteri, yaitu ibu Sri Mulyani Indrawati (Menteri Keuangan Republik Indonesia) dan ibu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan RI)  yang menjadi role model dan diidolakan tidak hanya oleh kaum perempuan namun juga laki-laki.

Q: Nah, Hari Perempuan Internasional 2018 ini memiliki tema besar #PressforProgress di mana kita diajak untuk berkomitmen untuk bergerak aktif dalam mendorong pilar-pilar penting di bidang sosial, ekonomi maupun politik. If you can choose one pillar which would you prefer to commit? Why?

A: Saving our planet, lifting people out of poverty, advancing economic growth these are one and the same fight. We must connect the dots between climate change, water scarcity, energy shortages, global health, food security and women’s empowerment. Solutions to one problem must be solutions for all – Ban Ki-moon

Q: How do you think we should start? Give us any of your spontaneous idea.

A: #speeddatingforchange, charity event using speed dating format to support sexual violence and women empowerment causes!

Q: Some words for all women out there in this International Women’s day?  

A: Tak perlu takut untuk bersuara, tak perlu ragu untuk bertindak. Ambil setiap kesempatan yang ada dan terus berkarya untuk kemajuan bangsa.

William dan Amartha sama-sama mendukung pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Amartha sebagai perusahaan financial technology (fintech) yang bergerak dalam peer-to-peer (p2p) lending (layanan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi) membantu perempuan pedesaan agar mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan usaha mikro. Amartha telah melakukan tindakan nyata dalam membangun ekonomi pedesaan.

Bagaimana dengan Anda? Ayo bertindak dan dukung perempuan Indonesia untuk kemajuan bangsa!